MANADO | DOTNEWS.ID – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Utara, Ir. Adolf Tamengkel, MAP, memastikan tidak ada korban jiwa akibat gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Sulawesi Utara pada Senin (8/6/2026).
Meski demikian, bencana tersebut mengakibatkan kerusakan sejumlah infrastruktur dan memaksa 1.160 warga mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
“Berdasarkan laporan sementara yang diterima BPBD Sulut, belum ditemukan korban jiwa. Namun, terdapat kerusakan pada rumah warga dan sejumlah fasilitas umum di beberapa wilayah terdampak,” ujar Adolf Tamengkel di Manado, Selasa (9/6/2026).
Data BPBD Sulut mencatat total kerusakan meliputi 111 unit rumah warga, 2 gereja, 1 masjid, 2 sekolah, 1 rumah dinas, 1 rumah sakit, 1 puskesmas, 2 gedung kantor pemerintahan, serta 2 gedung pelabuhan.
Menurut Tamengkel, hingga Senin sore pukul 16.45 WITA, BMKG mencatat telah terjadi 60 kali gempa susulan. Gempa susulan terbesar berkekuatan Magnitudo 6,7 dan terkecil Magnitudo 3,6.
Gempa utama terjadi pada Senin (8/6/2026) pukul 07.37 WITA dengan Magnitudo 7,7 pada kedalaman 105 kilometer. Episentrum berada di koordinat 5,69 LU dan 125,05 BT atau sekitar 236 kilometer barat laut Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Gempa tersebut dipicu aktivitas subduksi lempeng dan dirasakan di seluruh wilayah Sulawesi Utara dengan intensitas II hingga III MMI.
BPBD Sulut juga melaporkan bahwa kerusakan paling banyak terjadi di tiga daerah, yakni Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten Kepulauan Talaud, dan Kabupaten Minahasa Utara.
Di Kabupaten Kepulauan Sangihe tercatat 100 rumah warga rusak, 2 gereja, 1 masjid, 2 sekolah, 1 rumah dinas, 1 puskesmas, 2 kantor pemerintahan, serta 1 gedung pelabuhan mengalami kerusakan.
Sementara di Kabupaten Kepulauan Talaud, kerusakan meliputi 11 rumah warga, 1 rumah sakit, dan 1 gudang pelabuhan perintis. Sedangkan di Kabupaten Minahasa Utara, 1 gedung sekolah dilaporkan mengalami kerusakan.
Gempa tersebut juga sempat memicu peringatan dini tsunami. Berdasarkan pemantauan, gelombang tsunami dengan ketinggian antara 0,18 hingga 0,75 meter terdeteksi di beberapa wilayah, di antaranya Tahuna, Bitung, Melonguane, Talengan, dan Ulu Siau.
Namun demikian, Tamengkel memastikan kondisi telah berangsur normal dan tidak terjadi tsunami besar yang membahayakan masyarakat.
“Kami mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan serta terus memantau informasi resmi dari BMKG dan BPBD,” katanya.
BPBD Sulut juga merekomendasikan pemerintah daerah yang berada pada status siaga untuk meningkatkan kesiapsiagaan, melakukan evakuasi bila diperlukan, memperkuat koordinasi pendataan korban dan kerusakan, serta terus melakukan sosialisasi mitigasi bencana kepada masyarakat.(fer)














