DOTNEWS.ID | BOLMUT – Pelaksanaan pembangunan Gedung Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC), Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bolmong Utara (Bolmut) dinilai bakal berujung asal jadi.
Pasalnya gedung megah berkapasitas tiga lantai yang dikerjakan PT Brantas Abipraya (Persero), mulai menunjukan dugaan tidak sesuai spesifikasi atau standart konstruksi bangunan.
Salah satunya, pekerjaan struktur bawah untuk pengeboran fondasi sebanyak 157 titik yang menjadi penentu kekuatan bangunan, diduga tidak menggunakan batching plant atau fasilitas produksi beton siap pakai.
Berdasarkan hasil penelusuran media ini tahapan pekerjaan pengeboran fondasi atau bor pile telah dimulai, namun pihak pelaksana tidak menggunakan batching plant yang selayaknya digunakan untuk mencampur takaran semua bahan, termasuk air secara terukur.
Justru langsung dicampur secara manual ke truk pengaduk atau concrete mixer truck yang mengangkut campuran beton jadi untuk proses pengecoran.
Ada dugaan, campuran material cor beton untuk bor pile ini sengaja dilakukan secara manual dalam rangka mengejar progres pekerjaan yang volumenya masih dibawah standar atau jauh dari harapan.
Tak heran, mega poyek yang merupakan bagian dari penugasan Kemenkes RI dengan nilai kontrak sebesar Rp128,3 Miliar dengan durasi pelaksanaan 296 hari kalender, itu mulai diragukan oleh berbagai pihak.
“Apakah dalam dokumen kontrak kerja memang tidak menggunakan batching plant, tentunya ini harus ada penjelasan. Sebab bangunan tersebut mencakup gedung tiga lantai,” ujar Fadel Hulalango, salah satu peerhati di Kabupaten Bolmut.
“Jangan hanya karena pihak pelaksana proyek pemerintah ini adalah salah satu BUMN, lantas seenaknya mengabaikan kualitas bangunan,” sambungnya.
Sementara itu, langkah konfirmasi yang dilakukan kepada pihak kontraktor pelaksana PT Brantas Abopraya (Persero) maupun pihak kontraktor bidang perencanaan dan pengawasan proyek PT Ciriajasa Cipta Mandiri, Kamis (07/05/2026) belum juga berhasil.
“Kalau bapak menginginkan informasi sebaiknya terlebih dahulu ada janjian, tapi saat ini pihak pelaksana dan pengawas sedang tidak berada di tempat. Bangunan direksi keet memang sudah ada di samping sana, tapi belum di operasikan lantaran masih dalam tahap perampungan,” ujar salah satu pihak keamaan kepada media ini di pos penjagaan lokasi proyek.(tim)















