DOTNEWS.ID | BITUNG — Negara tak boleh absen di wilayah terluar. Prinsip itu yang kini benar-benar diwujudkan jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia melalui aksi nyata di laut.
Direktorat Polisi Air dan Udara (Ditpolairud) Polda Sulawesi Utara kembali menghadirkan Klinik Terapung, layanan kesehatan gratis yang menyasar warga pesisir dan pulau terpencil—kelompok yang selama ini kerap terpinggirkan dari akses medis.
Kali ini, pelayanan digelar di atas kapal SPOB ALVINA di perairan Selat Lembeh, Kamis (30/4/2026). Dari tengah laut, tim medis bergerak mendekat ke warga—membalik pola pelayanan yang biasanya menuntut masyarakat datang ke kota.
Program ini bukan sekadar kegiatan sosial biasa. Klinik Terapung merupakan gagasan strategis yang digagas sejak era Mohammad Fadil Imran saat menjabat Kabaharkam Polri tahun 2023, dengan misi besar: menghadirkan negara hingga ke titik-titik yang sulit dijangkau daratan.
Di Sulawesi Utara, program tersebut kini mendapat akselerasi di bawah kepemimpinan Bayuaji Yudha Prajas. Meski baru empat bulan menjabat, ia mendorong perubahan pendekatan—dari sekadar menjaga keamanan, menjadi pelayanan aktif yang menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat.
“Klinik Terapung ini bukan seremonial. Ini tentang kehadiran nyata negara di tengah masyarakat yang selama ini sulit menjangkau layanan kesehatan,” tegas Bayuaji.
Kegiatan dipimpin Ipda Suleman Salino bersama tim medis menggunakan kapal polisi tipe XV-2003 yang dikomandani Brigpol Hany Wantaniah dan kru. Mereka memberikan pemeriksaan kesehatan, pembagian obat, hingga edukasi medis langsung di lokasi pesisir.
Bagi masyarakat pulau kecil, kehadiran layanan ini bukan sekadar bantuan—melainkan solusi atas keterbatasan. Selama ini, akses ke rumah sakit membutuhkan biaya besar dan waktu panjang. Kini, pelayanan justru “menjemput” mereka di dermaga bahkan di bibir pantai.
“Kami ingin Polri hadir dengan hati. Warga tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh, cukup di depan rumah mereka sudah bisa berobat,” lanjut Bayuaji.
Lebih dari sekadar layanan kesehatan, program ini juga menjadi jembatan kepercayaan antara masyarakat pesisir dan aparat negara. Di wilayah yang kerap luput dari perhatian, kehadiran langsung seperti ini menjadi simbol bahwa negara tidak menutup mata.
Ditpolairud Polda Sulut pun memastikan kegiatan serupa akan terus diperluas ke titik-titik lain yang membutuhkan.
“Ke depan, kami akan terus hadir. Tidak boleh ada masyarakat pesisir yang tertinggal dari pelayanan negara,” pungkasnya. (Sman)















