DOTNEWS.ID | GORONTALO – Duka atas wafatnya tokoh nasional asal Gorontalo, Rahmat Gobel, masih menyelimuti masyarakat. Memasuki hari kelima sejak kepergiannya, ribuan warga dari berbagai penjuru Provinsi Gorontalo memadati lokasi takziah untuk mengikuti doa dan zikir bersama sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada sosok yang selama ini dikenal sebagai penggerak pembangunan dan pengabdian bagi daerah.
Suasana haru menyelimuti kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut. Warga datang tanpa undangan resmi, membawa satu tujuan yang sama: mendoakan sosok yang mereka anggap bukan hanya pemimpin, tetapi juga orang tua, sahabat, dan inspirasi bagi masyarakat Gorontalo.
Menariknya, kegiatan ini lahir dari inisiatif masyarakat. Ribuan warga dari Kabupaten Gorontalo, Kota Gorontalo, Gorontalo Utara, Boalemo, hingga Bone Bolango hadir secara sukarela, dipelopori oleh para ibu-ibu takmir masjid yang mengoordinasikan pelaksanaan zikir dan doa bersama.
“Ini kegiatan yang digagas oleh masyarakat. Tanpa undangan resmi, semua datang dengan kesadaran sendiri. Kami dari pemerintah daerah hanya memfasilitasi,” ujar perwakilan pemerintah daerah di sela-sela kegiatan.
Fenomena tersebut menjadi bukti kuat bahwa Rahmat Gobel meninggalkan jejak yang mendalam di hati masyarakat. Bahkan, banyak warga yang mengaku belum pernah bertemu langsung dengan almarhum, namun merasa kehilangan atas kepergian sosok yang dinilai telah mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan Gorontalo.
Tak hanya meninggalkan duka, Rahmat Gobel juga disebut menitipkan amanah terakhir terkait pembangunan daerah. Dalam kesaksian yang disampaikan perwakilan pemerintah daerah, almarhum sempat melakukan komunikasi sehari sebelum wafat dan menyampaikan pesan yang kini menjadi perhatian masyarakat.
“Satu hari sebelum meninggal, beliau menelepon saya. Beliau menitipkan seluruh proses pembangunan yang sudah dilaksanakan dan berpesan agar amanah itu dijaga dengan baik untuk masyarakat Kabupaten Gorontalo,” ungkapnya dengan nada emosional.
Pesan tersebut dinilai bukan sekadar ditujukan kepada pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat Gorontalo untuk menjaga berbagai fasilitas dan program yang telah dirintis selama ini.
Rahmat Gobel diketahui memiliki perhatian besar terhadap pembangunan sumber daya manusia di Gorontalo. Selama hidupnya, ia aktif mendukung pembangunan sekolah, pesantren, hingga berbagai fasilitas pendidikan yang bertujuan meningkatkan kualitas generasi muda.
Namun, menurut penuturan orang-orang terdekatnya, almarhum merasa perjuangan tersebut masih jauh dari selesai.
“Beliau pernah mengatakan bahwa apa yang sudah dibangun baru sekitar 30 persen. Artinya, masih ada 70 persen perjuangan yang harus dilanjutkan,” katanya.
Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa warisan terbesar Rahmat Gobel bukan semata bangunan fisik, melainkan semangat pengabdian dan visi besar untuk menjadikan Gorontalo lebih maju dan sejahtera.
Pemerintah daerah pun berencana melakukan komunikasi dengan pihak keluarga dalam waktu dekat untuk membahas amanah terakhir yang ditinggalkan almarhum. Langkah tersebut diharapkan dapat memastikan berbagai program yang telah dirintis tetap berjalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Doa dan zikir bersama yang berlangsung hingga malam hari itu menjadi simbol kuat kecintaan rakyat Gorontalo kepada Rahmat Gobel. Di tengah isak tangis dan lantunan doa, masyarakat seolah menyampaikan satu pesan yang sama: sosok Rahmat Gobel telah berpulang, namun cita-cita dan pengabdiannya akan terus hidup di tanah Gorontalo.
Kepergian Rahmat Gobel tidak hanya meninggalkan ruang kosong di panggung nasional, tetapi juga mewariskan amanah besar yang kini berada di pundak seluruh masyarakat Gorontalo untuk melanjutkan perjuangan yang belum tuntas.(ard)














