DOTNEWS.ID Bolmut – Berbagai terpaan isu miring ditujukan kepada kandidat Calon Wakil Bupati Bolmut, Moh Aditya Pontoh (MAP) sebelum terselenggaranya debat kandidat pada Senin 14 Oktober 2024.
Hal itu ditujukan seolah Adit sapaan akrabnya, hanya sekedar anak baru yang tak tau apa-apa dan sengaja dipasang untuk dijadikan boneka pemerintahan.
Namun setelah dilaksanakan debat publik kandidat calon bupati dan wakil yang di prakarsai KPU Bolmut, terjawab sudah kegelisahan rakyat dengan adanya isu ketidakmampuan seorang Cawabup Aditya Pontoh yang mampu menjabarkan tiga hal penting dalam debat kandidat.
– Pertama Aditya mampu menyebarluaskan profil, visi dan misi, serta program pasangan SJL-MAP kepada pemilih dan kepada masyarakat.
– Kedua Aditya memberikan informasi secara menyeluruh kepada pemilih sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan pilihannya.
– Dan yang ketiga, Aditya menggali dan mengelaborasi lebih dalam dan luas atas setiap tema yang diangkat dalam kampanye pemilu debat kandidat.
Tentunya hasil dari debat kandidat perlu diapresiasi karna baik penguasaan panggung dan juga materi sangat sesuai dengan gaya pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Sirajudin Lasena-Moh Aditya Pontoh, sebagai generasi milenial yang siap sejalan menghadapi tantangan Global.
Sementara itu Aditya menceritakan bagaimana dirinya melakukan perjalanan safari politik di wilayah Bolmong Utara.
Di Desa Iyok, Kecamatan Bolangitang Barat menjadi titik ke 114 safari politik ia dan Calon Bupati Sirajudin Lasena lakukan.
Kondisi politik di Bolmut, Aditya menceritakan ada berbagai macam tantangan dan nasehat yang mereka jumpai selama turun.
“Desa iyok sudah 3 kali saya kunjungi, macam-macam saya temui disini, karena dorongan itu membuat kami kuat,” ujarnya, saat melakukan orasi politik, Selasa (15/10/2024).
Alasannya, lanjut Aditya, karena ingin melayani masyarakat Bolmut, sehingga membuat kami kuat untuk terus melanjutkan perjuangan.
Begitu juga soal isu-isu yang terus digunakan kelompok-kelompok tertentu untuk dipakai menyerangnya bersama bapak Sirajudin Lasena, kata Aditya, isu seperti itu hanya ‘kotoran kuku’.
“Jadi kami diam, bukan berarti takut. Pun demikian, kami diam bukan tidak tahu apa-apa, pembuktian bisa kita lihat pada debat kandidat perdana kemarin,” terangnya.
Menurutnya, anak bertanya sama bapak, katanya juga ini merupakan hal yang wajar dilakukan seorang anak.
“Wajar sebagai anak meminta nasehat sama orang tua, asalkan bukan pada orang kedua,” ujarnya.
Lebih jauh ia mengungkap ketika mendapat amanah dari rakyat, menurut Aditya, ada berbagai hal yang telah ia siapkan, termasuk pamit dari sang istri.
“Saya sudah bilang ke istri saya, kalau kelak dapat amanah, jangan pernah cari tahu saya dimana, karena pasti ada di tengah-tengah masyarakat,” pungkasnya.(**)














