DAERAH

Diikuti 3.400 Peserta, Gubernur Yulius Selvanus Tutup Festival Literasi Sulut 2026

×

Diikuti 3.400 Peserta, Gubernur Yulius Selvanus Tutup Festival Literasi Sulut 2026

Sebarkan artikel ini
Gubernur Sulut, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, S.E, menutup Festival Literasi Sulawesi Utara.

DOTNEWS.ID | MANADO – Gubernur Sulut, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, S.E, menutup Festival Literasi Sulawesi Utara (Sulut) 2026, Minggu (4/10/2026).

Festival Literasi Sulawesi Utara (Sulut) 2026 tersebut resmi berakhir setelah digelar selama tiga hari di Museum Negeri Sulawesi Utara.

Festival yang mengangkat tema “Merawat Kearifan dan Menciptakan Narasi untuk Masa Depan Peradaban” ini menjadi titik temu bagi pegiat literasi, budayawan, seniman, komunitas, pelajar, mahasiswa, pelaku UMKM, hingga masyarakat umum.

Sejak dibuka 2 Oktober, berbagai agenda mengisi rangkaian kegiatan.

Mulai dari talkshow, pertunjukan musik, workshop, bazar buku dan UMKM, bedah buku, book signing, pameran seni, booth komunitas, pertunjukan teater, hingga grand final Pemilihan Putra-Putri Literasi Sulut 2026.

Penutupan festival dihadiri Wakil Gubernur Sulut Dr. J. Victor Mailangkay, S.H., M.H, Ketua DPRD Bolaang Mongondow Samsudin Dama, sejumlah budayawan, dan pegiat literasi, serta komunitas seni dan literasi.

Dalam sambutannya, Gubernur Yulius Selvanus menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Festival Literasi Sulut 2026.

Ia merasa bangga karena sekitar 3.400 peserta terlibat dalam festival tingkat provinsi tersebut.

Menurutnya, literasi tidak boleh dimaknai hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis.

Lebih dari itu, literasi mesti menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, terutama generasi muda.

“Belajar dari kekurangan dan kelemahan untuk menjadi bagian dari kehidupan yang tidak bisa dipisahkan,” ujar Yulius.

Ia menegaskan bahwa budaya membaca, menulis, berpikir kritis, dan kemampuan menganalisis harus terus dikembangkan.

Tujuannya agar generasi muda mampu melahirkan gagasan serta solusi terhadap berbagai persoalan.

Sementara itu, Ketua Umum Literasi Sulawesi Utara, Standius Bara Prima M.IKom, menyoroti pentingnya menjaga sekaligus menghidupkan budaya literasi di Sulawesi Utara.

Menurutnya, literasi harus terus diperkuat, khususnya di kalangan anak muda.

Membaca, menulis, dan menganalisis menjadi modal penting bagi generasi muda untuk melahirkan ide-ide konstruktif bagi pembangunan daerah maupun bangsa.

“Literasi harus kita hidupkan, khususnya bagi anak muda. Membaca, menulis dan menganalisis sebuah ide maupun solusi untuk pemerintah dan negeri yang kita cintai bersama,” ujarnya.

Ia menambahkan, masih banyak aspek literasi yang dapat dikembangkan. Termasuk literasi budaya, seni, digital, sosial, hingga kemampuan berpikir kritis.

Festival Literasi Sulut 2026 juga menjadi momentum untuk mempertemukan berbagai unsur masyarakat dalam satu ruang kreatif.

Kehadiran pertunjukan teater Isbima, pameran seni, komunitas, serta berbagai kegiatan literasi menunjukkan bahwa budaya membaca dan berkarya dapat berjalan beriringan dengan pelestarian kearifan lokal.

Penutupan festival bukan menjadi akhir dari gerakan literasi.

Justru sebaliknya, momen ini menjadi titik awal untuk terus menumbuhkan budaya membaca, menulis, berpikir, dan berkarya di tengah masyarakat Sulawesi Utara.

Semangat merawat kearifan lokal dan menciptakan narasi untuk masa depan diharapkan tidak berhenti di panggung festival.

Semangat itu diharapkan terus hidup di sekolah, kampus, komunitas, keluarga, dan ruang-ruang publik. (fer)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *