boltara
DAERAH

Kecamatan Limboto Integrasikan Rembuk Stunting dan Pra-Musrenbang Kelurahan 2026-2027

×

Kecamatan Limboto Integrasikan Rembuk Stunting dan Pra-Musrenbang Kelurahan 2026-2027

Sebarkan artikel ini
Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, melaksanakan dua agenda strategis secara terintegrasi.

DOTNEWS.ID | LIMBOTO – Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, melaksanakan dua agenda strategis secara terintegrasi melalui kegiatan Rembuk Stunting dan Pra-Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Pra-Musrenbang) Kelurahan, yang dipusatkan di Aula Kantor Lurah Hepuhulawa, Kamis (5/2/2026).

Kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi lintas sektor dalam menyusun perencanaan program pembangunan berbasis kebutuhan masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan percepatan penurunan stunting di tingkat kelurahan.

Koordinator Wilayah KB Kecamatan Limboto, Abdul Rahman Nango, menjelaskan bahwa rembuk stunting menjadi momentum penting untuk mengevaluasi sekaligus merancang program pencegahan stunting yang lebih terarah dan berkelanjutan.

“Kami merancang berbagai program, baik di tingkat kecamatan maupun kelurahan, yang berfokus pada pencegahan stunting. Meskipun kelurahan tidak memiliki anggaran desa, paling tidak pemanfaatan DAU SG dapat diarahkan untuk meningkatkan kualitas keluarga di Kecamatan Limboto,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, berdasarkan data Keluarga Risiko Stunting (KRS), jumlah keluarga berisiko stunting di Kecamatan Limboto menunjukkan penurunan signifikan. Pada tahun 2024 tercatat sekitar 1.300 keluarga, kemudian menurun pada tahun 2025, dan kembali berkurang menjadi kurang dari 700 keluarga pada tahun 2026.

“Ini menunjukkan bahwa program-program yang dijalankan sepanjang tahun 2025 benar-benar fokus dan berdampak pada penurunan stunting. Bahkan, Kecamatan Limboto menjadi satu-satunya kecamatan yang memiliki banyak inovasi hingga ke tingkat kelurahan dalam upaya percepatan penurunan stunting,” tambahnya.

Abdul Rahman berharap, pada tahun 2026 hingga 2027, geliat dan intensitas program penanganan stunting dapat terus ditingkatkan, khususnya melalui pendekatan pemberdayaan keluarga.

Pada kesempatan tersebut, rembuk stunting juga menjadi ajang evaluasi kinerja Tim Pendamping Keluarga (TPK). Ia menyebutkan capaian Kecamatan Limboto telah mencapai 100 persen pendampingan, meliputi calon pengantin, ibu hamil, ibu pasca persalinan, serta bayi dan balita.

Namun demikian, masih terdapat tiga indikator prioritas penyebab stunting berdasarkan data KRS yang perlu mendapat perhatian serius, yakni kepemilikan jamban yang masih rendah, dan penggunaan air bersih yang belum merata di beberapa kelurahan, serta faktor 4T (terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering, dan terlalu banyak).

“Ini yang harus kita intervensi bersama melalui program jambanisasi, penyediaan bantuan air bersih, serta edukasi berkelanjutan terkait risiko 4T. Jika ini digerakkan secara konsisten, saya yakin jumlah keluarga berisiko stunting akan terus menurun,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia mendorong agar perencanaan DAU SG untuk 14 kelurahan pada tahun 2027 lebih diarahkan pada program pemberdayaan, seperti jambanisasi, air bersih, serta pemberian bantuan natura bagi keluarga berisiko stunting. Di sisi lain, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Gorontalo terus mendorong sosialisasi dan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta penguatan peran pendamping keluarga.

Sementara itu, Pelaksana Harian Lurah Hepuhulawa, Saiful R. Pakaya, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan terintegrasi tersebut. Menurutnya, Pra-Musrenbang dan Rembuk Stunting merupakan langkah strategis dalam meningkatkan kualitas perencanaan program pembangunan dan pelayanan masyarakat.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat, khususnya dalam menyusun perencanaan program yang matang untuk tahun 2027, termasuk program percepatan penurunan stunting. Kami juga mengusulkan kembali beberapa program tahun sebelumnya yang belum terakomodir,” ungkapnya.

Adapun usulan prioritas Kelurahan Hepuhulawa antara lain pembangunan jalan tani di Lingkungan I, serta pengembangan program Kelompok Usaha Bersama (KUBE) berupa pemberdayaan masyarakat melalui usaha perbengkelan dan tambal ban.

“Program ini sangat menjanjikan dan berjangka panjang, mengingat Kelurahan Hepuhulawa belum memiliki usaha tambal ban, sementara letak wilayah kami berada di jalur protokol yang sangat potensial. Kami berharap program ini dapat tercover melalui kolaborasi dan dukungan pemerintah kecamatan,” pungkasnya.

Ia menegaskan, Kelurahan Hepuhulawa siap berkolaborasi dan mendukung penuh pembangunan daerah, baik di tingkat kecamatan maupun Kabupaten Gorontalo.(ard)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *