boltara
DAERAH

Pemprov Sulawesi Utara Dukung Penuh Pelestarian Budaya Bantik

×

Pemprov Sulawesi Utara Dukung Penuh Pelestarian Budaya Bantik

Sebarkan artikel ini
Pemprov Sulawesi Utara Dukung Penuh Pelestarian Budaya Bantik.

DOTNEWS.ID | MANADO – Suasana khidmat sekaligus semarak menyelimuti kawasan Megamas Pohon Kasih, Sabtu (5/9/2026). Ribuan masyarakat dari 11 banua (kampung adat) Suku Bantik se-Sulawesi Utara tumpah ruah memadati lokasi Festival Seni Budaya Bantik yang dirangkaikan dengan Peringatan 77 Tahun Gugurnya Pahlawan Nasional Robert Wolter Mongisidi.

Acara yang menjadi puncak dari serangkaian kegiatan yang telah berlangsung sejak Juli lalu ini secara resmi dibuka oleh Sekretaris Provinsi Sulawesi Utara, Tahlis Gallang, S.IP., M.M. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi mendalam atas semangat kebersamaan yang ditunjukkan oleh seluruh elemen masyarakat adat Bantik .

“Festival ini bukan sekadar perayaan. Ini adalah momentum penting untuk mewariskan budaya luhur kepada generasi muda sekaligus meneladani semangat juang Pahlawan Nasional Robert Wolter Mongisidi dalam mencintai tanah air dan menjaga persatuan,” ujar Tahlis Gallang di hadapan para tetua adat, tokoh agama, jajaran TNI/Polri, serta perwakilan diaspora Bantik yang datang dari Australia, Prancis, hingga Papua .

Kegiatan ini mengusung tema besar pelestarian identitas budaya di tengah gempuran modernisasi. Wakil Wali Kota Manado, dr. Richard H.M. Sualang, dalam kesempatan bersama menegaskan bahwa pelestarian budaya adalah benteng pertahanan identitas bangsa.

“Gagasan kegiatan yang dirangkaikan dengan penyelenggaraan seni tari daerah ini memberi pengaruh positif untuk menunjang program pelestarian budaya, yang nantinya juga bisa menjadi aset pariwisata,” jelasnya .

Puncak acara dimeriahkan oleh parade budaya dari 11 kampung asli Suku Bantik, mulai dari Singkil, Buha, Bengkol, Talawaan Bantik, Molas, Bailang, Tanamon, hingga Ratahan .

Atraksi yang paling menyita perhatian adalah Tarian Mahamba, ritual adat yang telah dilestarikan sejak ribuan tahun lalu, serta tarian perang khas Bantik yang menggambarkan keperkasaan dan kekebalan para penari .

Ketua Panitia Pelaksana, Albert Mokodongan, S.E., menyampaikan bahwa festival ini menjadi bukti nyata bahwa warisan budaya Bantik tetap hidup dan diwariskan kepada generasi penerus. “Semangat perjuangan Robert Wolter Mongisidi terus kami kenang sebagai inspirasi untuk mencintai tanah air dan menjaga persatuan,” pungkasnya .

Peringatan 77 tahun gugurnya Pahlawan Nasional yang dikenal dengan nama panggilan “Bote” ini menjadi pengingat akan keteguhan seorang pemuda Bantik berusia 24 tahun yang lebih memilih menghadapi regu tembak Belanda di Makassar pada 5 September 1949 daripada mengkhianati keyakinannya . Delapan peluru yang menembus tubuhnya menjadi saksi bisu pengorbanan demi tegaknya Merah Putih .

Melalui festival ini, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara berharap Gelora semangat kepahlawanan dapat terus berkobar di hati generasi muda, bukan hanya putra-putri Bantik, tetapi seluruh masyarakat Sulawesi Utara. “Budaya adalah identitas, dan menghormati jasa pahlawan adalah kewajiban bagi setiap anak bangsa,” demikian pesan yang terukir dalam gelaran tahunan ini. (fer)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *