DOTNEWS.ID | BITUNG – Revitalisasi Monumen Taman Angkatan Laut atau Monumen Pahlawan Samudera di Kota Bitung yang dilakukan Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) VIII mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan.
Kawasan yang selama puluhan tahun terbengkalai kini kembali hidup dan berkembang menjadi ruang publik sekaligus pusat kegiatan ekonomi masyarakat melalui pembukaan Zona UMKM.
Monumen yang menjadi simbol sejarah maritim Indonesia dan perjuangan Trikora itu sebelumnya dikenal sebagai bangunan tua yang kurang terawat. Bahkan, kawasan tersebut sempat dianggap sebagai lokasi kumuh dan rawan tindak kriminalitas.
Melalui program revitalisasi yang digagas Kodaeral VIII, wajah Monumen Pahlawan Samudera kini berubah menjadi lebih bersih, tertata, dan representatif.
Tidak hanya itu, kawasan tersebut juga dimanfaatkan sebagai lokasi berjualan bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) binaan Perumda Pasar Kota Bitung.
Plt. Direktur Operasional Perumda Pasar Kota Bitung, Vanny Kaunang, S.IP, menyampaikan apresiasi kepada Kodaeral VIII, khususnya kepada Kolonel Laut (P) Marvil Marfel Frits E.D., S.E., M.Tr.Opsla., CRMP selaku penggagas dan panitia pelaksana revitalisasi kawasan bersejarah tersebut.
“Kami memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Kodaeral VIII, khususnya kepada Kolonel Laut (P) Marvil Marfel Frits E.D., S.E., M.Tr.Opsla., CRMP yang telah menggagas revitalisasi Monumen Pahlawan Samudera. Apa yang dilakukan bukan hanya mempercantik kawasan, tetapi juga menghidupkan kembali ikon sejarah Kota Bitung sekaligus membuka ruang usaha bagi pelaku UMKM lokal,” ujar Vanny usai mengikuti kegiatan peresmian pada Jumat, (24/7/2026).
Menurut Vanny, langkah Kodaeral VIII merupakan terobosan yang patut mendapat dukungan seluruh masyarakat karena memberikan manfaat nyata, baik dari sisi pelestarian sejarah maupun pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Selama ini monumen terlihat angker dan kurang terawat. Sekarang wajahnya berubah total. Yang lebih penting lagi, masyarakat, khususnya pelaku UMKM binaan Perumda Pasar, mendapat kesempatan untuk berjualan dan mengembangkan usahanya di lokasi yang strategis,” katanya.
Ia berharap Monumen Pahlawan Samudera yang dibangun pada era 1960-an itu dapat berkembang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan sekaligus ruang interaksi masyarakat Kota Bitung.
Untuk mendukung hal tersebut, Perumda Pasar telah menyiapkan berbagai program dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.Berbagai perlombaan, bazar UMKM, dan kegiatan masyarakat akan dipusatkan di kawasan Monumen Samudera.
“Kami telah merancang berbagai kegiatan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak agar kawasan ini menjadi tujuan masyarakat, khususnya anak-anak muda dan Generasi Z. Kami ingin Monumen Samudera menjadi tempat berkumpul, bersantai, sekaligus mengenalkan kembali sejarah perjuangan bangsa kepada generasi muda,” ungkap Vanny.
Selain aktivitas UMKM, kawasan tersebut juga telah dimanfaatkan sebagai lokasi kegiatan Healthy Harmony (HH) berupa senam bersama yang rutin digelar setiap Sabtu pagi.
Sejumlah pelaku UMKM juga telah mulai berjualan sehingga diharapkan kawasan ini semakin ramai dikunjungi warga, terutama pada sore hingga malam hari.
“Kami mengajak seluruh masyarakat Kota Bitung untuk datang dan meramaikan kawasan Monumen Samudera. Dengan berkunjung dan membeli produk UMKM lokal, masyarakat ikut mendukung pertumbuhan ekonomi pelaku usaha kecil sekaligus menjaga kawasan bersejarah ini tetap hidup,” tambahnya.
Sejauh ini, Perumda Pasar Kota Bitung tidak hanya mengelola operasional pasar rakyat, tetapi juga terus berinovasi dalam mendorong pengembangan UMKM.
Berbagai program pembinaan dilakukan melalui penyediaan lokasi usaha yang representatif, pelatihan peningkatan kapasitas pelaku usaha, fasilitasi akses pembiayaan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) bekerja sama dengan sektor perbankan, promosi digital, hingga pendampingan sertifikasi halal.
Kolaborasi antara Kodaeral VIII dan Perumda Pasar Kota Bitung ini diharapkan menjadikan Monumen Pahlawan Samudera tidak hanya sebagai simbol sejarah maritim Indonesia, tetapi juga sebagai pusat wisata, ruang publik yang nyaman, dan penggerak ekonomi kerakyatan di Kota Bitung. (Sman)














