boltara
DAERAH

Harmonisasi IKSSAT dan Pemkot, Pesta Adat Tulude Digelar Terpusat di Kantor Wali Kota

×

Harmonisasi IKSSAT dan Pemkot, Pesta Adat Tulude Digelar Terpusat di Kantor Wali Kota

Sebarkan artikel ini
Ketua Panitia Tulude sekaligus pengurus IKSSAT, Alfred Salindeho (foto istimewa)

DOTNEWS.ID | BITUNG – Panitia pelaksana Ikatan Kekeluargaan Sangihe, Sitaro, dan Talaud (IKSSAT) menyatakan kesiapan penuh untuk menggelar perayaan adat Tulude yang akan dilaksanakan besok.

Kegiatan budaya tahunan ini menjadi momentum penting dalam pelestarian nilai-nilai adat dan kearifan lokal masyarakat Nusa Utara.

Ketua Panitia Tulude sekaligus pengurus IKSSAT, Alfred Salindeho, menjelaskan bahwa pada tahun-tahun sebelumnya seluruh pembiayaan kegiatan Tulude bersumber dari anggaran Pemerintah Kota.

Namun, di tengah kebijakan efisiensi anggaran saat ini, IKSSAT hadir untuk berkolaborasi membantu pemerintah dalam menyukseskan pesta budaya tersebut.

“Puji Tuhan, tahun ini IKSSAT hadir di tengah situasi efisiensi anggaran. Kami membantu pemerintah agar pelaksanaan Tulude tetap berjalan tanpa membebani APBD. Ini bentuk semangat bersama untuk melestarikan budaya,” ujar Alfred kepada media. Kamis, (29/01/2026).

Ia menegaskan, kolaborasi antara IKSSAT dan pemerintah menjadi kunci utama agar pergelaran budaya tetap berlangsung harmonis.

Panitia dan pemerintah masing-masing memiliki porsi tanggung jawab, sehingga kegiatan dapat terlaksana dengan baik dan profesional.

Dalam pergelaran kali ini, IKSSAT bersama para donatur mengalokasikan dana sekitar Rp100 juta untuk mendukung pelaksanaan acara.

“Total hadiah lomba yang diperebutkan mencapai Rp33 juta, untuk membantu pemerintah ditengah efesiensi. Pelaksanaan Tulude tahun ini dipusatkan di kawasan Kantor Wali Kota, dengan delapan kecamatan menempati tenda masing-masing,” ujarnya.

Setiap kecamatan bertanggung jawab menyiapkan konsumsi tradisional seperti ubi, pisang, dan makanan khas daerah.

“Konsep ini kami buat agar suasana kebersamaan antar kecamatan tetap terasa. Konsumsi disiapkan langsung oleh kecamatan masing-masing, sementara panitia fokus pada panggung pergelaran dan rangkaian upacara adat,” tambah Alfred.

Menurutnya, kegiatan Tulude bukan hanya soal seremoni adat, tetapi juga berdampak langsung terhadap perputaran ekonomi masyarakat.

“Pesanan makanan UMKM, keterlibatan warga, hingga aktivitas ekonomi di sekitar lokasi acara menjadi bukti bahwa pergelaran budaya mampu menggerakkan ekonomi lokal,” katanya.

Ke depan, IKSSAT berharap pelaksanaan Tulude semakin mandiri dan profesional, sehingga anggaran pemerintah dapat lebih difokuskan untuk pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik.

Ia juga menekankan pentingnya regenerasi dan tongkat estafet budaya kepada generasi muda.

“Melestarikan budaya adalah bagian dari menjaga peradaban bangsa. Tulude ini harus diwariskan ke anak-anak muda, bahkan bisa dikembangkan melalui lomba budaya bagi pelajar agar nilai adat tetap hidup,” tutupnya. (Sman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *