DOTNEWS.ID | BITUNG – Ketua TP PKK Kota Bitung, Ellen Honandar Sondakh SE menegaskan peran penting kader PKK sebagai motor penggerak dalam pengelolaan sampah berbasis rumah tangga.
Hal ini disampaikan dalam kegiatan edukasi pengelolaan sampah yang melibatkan masyarakat dan kader PKK di tingkat kelurahan. Senin, (20/04/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bitung, Merianti Dumbela memberikan pemaparan teknis terkait pengolahan sampah organik menjadi kompos.
Ia menjelaskan bahwa bahan baku kompos sangat mudah ditemukan di rumah, seperti sisa makanan berupa nasi, ikan, sayur, serta daun-daunan.
Menurutnya, masyarakat tidak perlu membeli peralatan khusus karena proses pembuatan kompos dapat dilakukan menggunakan wadah sederhana seperti ember bekas atau lubang tanah di halaman rumah.
“Langkah pertama adalah mengumpulkan sampah organik, kemudian dicacah agar proses pembusukan lebih cepat. Setelah itu dimasukkan ke dalam wadah dan ditutup rapat. Proses ini bisa dipercepat dengan larutan EM4, namun secara alami juga bisa dilakukan tanpa bahan tambahan,” jelasnya.
Ia menambahkan, proses pengomposan membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga minggu, dengan pengadukan setiap tiga hari agar hasilnya merata. Setelah itu, kompos dapat digunakan sebagai pupuk alami untuk tanaman di pekarangan rumah.
Lebih lanjut, Merianti menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari sumbernya, yakni rumah tangga. Ia menyebutkan bahwa sekitar 15 persen sampah merupakan organik, sementara 75 persen lainnya adalah anorganik seperti plastik yang dapat dikelola melalui prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
DLH Kota Bitung juga mengacu pada Perda Nomor 3 Tahun 2021 yang mengatur pengelolaan sampah, termasuk kategori limbah berbahaya (B3) seperti lampu dan kaleng aerosol yang tidak boleh dibuang sembarangan.
Ke depan, DLH berencana menerapkan kebijakan tegas, di mana sampah yang tidak dipilah dari rumah tidak akan diangkut oleh petugas. Namun, kebijakan tersebut akan didahului dengan proses edukasi yang masif kepada masyarakat.
“Kami berharap kader PKK dapat menjadi corong edukasi di lingkungan masing-masing. Jika semua rumah sudah memilah sampah dan mengolah sampah organik menjadi kompos, maka persoalan sampah di TPS dapat berkurang secara signifikan,” tambahnya.
Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan praktik langsung pembuatan kompos serta pembagian kompos kepada peserta sebagai bentuk edukasi nyata kepada masyarakat. (Sman)















