HAMDAN Datunsolang lahir di Bintauna pada tanggal 31 Juli 1950, dari pasangan Hamidu M Datunsolang dan Alimah Tombinawa. Ia adalah putra ke tiga dari tujuh bersaudara yang terdiri dari lima orang laki-laki dan dua orang perempuan. Menurut silsila keluarga, Hamdan merupakan keturanan raja-raja yang pernah memerintah di zaman dahulu kala ketika Bintauna masih merupakan wilayah swapraja. Raja Patilima yang merupakan raja ke III dalam silsila raja-raja yang pernah berkuasa dalam sejarah kerajaan Bintauna menjadi peletak dasar kebudayaan masyarakat Bintauna karena dialah raja yang pertama kali memakai kata ‘Datunsolang’di belakang namanya yang kemudian di ikuti raja-raja sesudahnya sehingga kata Datunsolang ini pun kemudian menjadi simbolis bagi etnis asli Bintauna hingga sekarang ini.
Proses pembentukan kepribadian Hamdan di mulai sejak kecil dimana ia hidup di tengh-tengah keluarga yang berprofesi sebagai petani. Sebagai anak petani ia sering mengikuti ayahnya bekerja di kebun sambil bermain di sawah atau di hutan. Disamping itu, ia di beri tugas untuk mengembalakan sapi-sapi peliharaan ayahnya yang harus di jaganya ketika pulang sekolah.
Hoby mengembala sapi dan membuat perangkap untuk menangkap binatang, ini bukan sekedar meyalurkan kesenangan, semata-mata. Namun hal itu merupakan awal dari pembentukan sikap dan kepribadiannya menjadi anak ulet, kreatif dan cerdas. Hamdan kecil adalah anak yang cerdas dengan segudang prestasi. Sejak di bangku sekolah dasar Hamdan merupakan anak yang pandai dan rajin belajar sehingga ia selalu menggondol juara di kelasnya.
Setelah menamatkan pendidikan di SMP Negeri Boroko 1967 dan SMA Negeri Kotamobagu 1970, seperti kata orang bijak kampus adalah dunia awal pembentukan karakter kepemimpinan seorang mahasiswa, tak heran Hamdan Datunsolang, melanjutkan studi ke Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado dengan jurusan Administrasi Negara pada fakultas Sosial Politk (Sospol).
Semasa kuliah di Unsrat Manado, Hamdan sangat mengalami perkembangan kecerdasan yang signifikan. Jiwa kepemimpinanya makin terasa seiring perkembangan intelektualitasnya yang cukup membawa pengaruh pada pembentukan sikap dan kepribadiannya hingga menjadi sosok yang patut di perhitungkan oleh warga Kampus.
Kecerdasan berpikir serta keberanian dalam bertindak yang dimilkinya membuat ia di kenal banyak orang-orang penting seperti para akademis, politisi, birokrat dan lain-lain. Hal itulah yang membuat Hamdan disegani rekan-rekan sesama mahasiswa.
Sembilan tahun adalah waktu yang cukup bagi Hamdan dalam menyelsaikan studi di perguruan tinggi pada tahun 1979 dengan menyandang status Sarjana Sospol bergelar Doktorandus. Ia pun memboyong ijazah ke kampung halamannya Bintauna, disanalah ia berkontemplasi untuk mencari jati dirinya yang sebernanya sehingga sampailah Hamdan pada pengabdian untuk bangsa dan negara.
Berkat usaha dan kerja keras serta dibarengi dengan doa, Hamdan akhirnya di angkat menjadi Pegawai Negeri Sipli (PNS) Pemerintah Daerah Tingkat I Provinsi Sulut, sebagai pegawai pada Dinas Pendapatan Daerah di Kotamobagu dengan pangkat golongan ruang peñata muda III/A.
sebagai pejabat dengan eselon IVb jabatan pertama yang disandangnya adalah Kepala Sub Bagian Umum Dipenda Tingkat I Sulut di Kotamobagu yang dilantik pada tanggal 24 November 1981. Berkat kepiawaiannya dalam memimpin aparat serta kecerdasan dalam menajemen, maka berselang 5 tahun Hamdan kemudian dipercya sebagai Kepala Cabang Dinas Pendapatan Daerah Tingkat I Provinsi Sulut di Kotamobagu tanggal 6 Januari 1986. Kurang dari 2 tahun menjadi Kepala Dipenda, ia pun dimutasi ke Kabupaten Gorontalo dengan jabatan yang sama di Limboto tepat pada tanggal 19 Oktober 1987.
Hamdan Datunsolang, adalah sosok yang sudah malang melintang dalam dunia birokrat, karirnya terus naik bak seorang artis naik daun. Semua itu sebagai bukti kapabilitas dirinya sebagai birokrat ulung. Sehingga dua tahun menjabat sebagai pejabat Dipenda Sulut di Limboto, ia pun kembali dilantik sebagai salah satu pimpinan wilayah tingkat II Kotamadya Gorontalo Camat Kota Barat pada tanggal 14 Maret 1993. Kata orang seorang birokrat dikatakan sukses bila perjalanan karirnya melintasi jalur Camat, sebab jabatan Camat adalah miniature dari sebuah kepemimpinan dalam lingkup birokrasi, sehingga tak jarang setelah mereka menjadi Camat cenderung lebih lentur dalam meraih jabatan yang penting pada tingkat yang lebih tinggi. Hal itu lah yamg membuat ia dipercaya untuk memimpin Dinas Tata Kota Tingkat II Kotamadya Gorontalo 1995.
Tahun 1998 Hamdan Datunsolang kembali dipercaya menjadi Kepala Dipenda Dati II Kodya Gorontalo. Selang kurang 3 tahun memimpin Dipenda pada 2001, ia kembali dilantik menjadi pembantu Walikota Gorontalo Selaku Asisten Ekonomi Pembangunan Sekertariat Daerah Kota Gorontalo.
Pasca keruntuhan Orde Baru pada tanggal 21 Mei 1998, yang ditandai dengan kemunduran presiden Suharto, paradikma pemerintahan di Indonesi berubah dari sentralistik ke sistem desentralistik dengan dilegitimasi lahirnya UU 22-25 tahun 1999, tentang sistem pemerintah daerah yang berdampak pada daerah-daerah baru yang bersifat otonom Tingkat I dan II Kabupaten/Kota, salah satunya Provinsi Gorontalo.
Saat Tursandi Alwi dilantik sebagai Pejabat Gubernur Gorontalo oleh Mendagri Surjadi Sudirja, sosok Hamdan tak lepas dari incaran kabinet Gubernur, untuk dijadikan pembantunya, Hamdan pun dilantik sebagai pejabat eselon IIa menduduki jabatan Kepala Dipenda Provinsi Gorontalo hingga berakhirnya masa jabatan Tursandi Alwi dan pemilihan devinitif pun dilaksanakan tanggal 25 September 2001 di mana Fadel Muhamad sukses terpilih sebagai Gubenur Provinsi Gorontalo, dan akhirnya Hamdan di lantik sebagai Asisten Administrasi Umum dan Keuangan Pemprov Gorontalo.
Seiring pemerintahan Fadel berjalan, Hamdan Dutunsolang sebelum mengahiri karinya di dunia Birokrat, Hamdan selalu menjadi pejabat kepercayaanya untuk mengisi jabatan sebagai Pelaksana Tugas Sekertaris Provinsi Gonrontalo, menggantikan Sekprov Gorontalo Mansur Datuage akibat mengundurkan diri untuk mecalonkan diri pada Pilkada Bone Bolango tahun 2005.
Pengalaman berkipra di Gorontalo sebagai tokoh penting dalam lingkungan birokrasi telah mempertajam intuisinya sebagai birokrat sekaligus pemimpin. Hamdan banyak mengecap ilmu dari pengalaman serta kedekatan dengan figure Fadel Muhammad. Dari pergaulan selama tujuh tahun itu telah merubah kepribadian Hamdan dari sosok yang sekedar cerdas dalam berpikir menjadi sosok yang cerdas dalam memimimpin, sehingga ia pun menjadi orang nomr satu di Gorontalo Utara (Gorut). Hal ini cukup memberi bukti dan apresiasi yang positif terhadap kredibilatasnya dalam berpikir maupun memimpin. Arti kata ‘Pembangunan’ bagi Hamdan seakan-akan lebih luas ruang pemahamannya tentang makna pembangunan dari luas daerah yang dipimpinnya.(**)















