boltara
ADVETORIAL

Hengky–Randito Kibarkan Bendera Start, Cap Go Meh Bitung Meriah dan Penuh Warna

×

Hengky–Randito Kibarkan Bendera Start, Cap Go Meh Bitung Meriah dan Penuh Warna

Sebarkan artikel ini
Wali Kota Bitung, Hengky Honandar bersama Wakil Wali Kota Randito Maringka secara resmi membuka kegiatan dengan mengibarkan bendera start, menandai dimulainya pawai budaya yang menyedot perhatian ribuan warga.

DOTNEWS.ID | BITUNG – Perayaan Prosesi Goan Siau atau Cap Go Meh di Kota Bitung berlangsung spektakuler dan penuh semangat. Wali Kota Bitung, Hengky Honandar bersama Wakil Wali Kota Randito Maringka secara resmi membuka kegiatan dengan mengibarkan bendera start, menandai dimulainya pawai budaya yang menyedot perhatian ribuan warga di Klenteng Seng Bo Kiong. Selasa, (03/02026).

Acara diawali dengan doa lintas agama sebagai simbol kuat persatuan dan komitmen menjaga kerukunan antar umat beragama di Kota Bitung. Suasana religius berpadu dengan gegap gempita budaya, menciptakan harmoni yang menjadi ciri khas kota pelabuhan ini.

Iring-iringan pawai Toa Pe Kong dan aksi Tangsin (atau Tang Sin), yaitu orang yang dirasuki dewa atau leluhur dan melakukan atraksi ekstrem, seperti menusuk tubuh dengan benda tajam

Wali Kota Hengky Honandar menegaskan bahwa toleransi adalah fondasi utama pembangunan daerah.

“Toleransi antar umat beragama harus selalu kita jaga. Ini modal kita membangun kota tercinta,” tegas Honandar.

Ia juga menekankan bahwa Cap Go Meh harus terus dikembangkan sebagai ikon wisata unggulan Bitung.

“Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara, sektor UMKM diyakini akan semakin tumbuh dan ekonomi warga makin bergairah,” ujarnya.

Walikota Bitung dan Wakil Walikota, di dampingi Ketua TP PKK serta Sekertaris TP PKK dan Jajaran Forkompinda

Perayaan tahun ini semakin sakral dengan diaraknya dua Tang Shin, sosok spiritual yang diyakini dirasuki roh suci. Sebelum mengikuti prosesi, mereka menjalani ritual khusus seperti puasa vegetarian dan berbagai pantangan sebagai bentuk penyucian diri.

Dalam atraksi ritualnya, Tang Shin menggunakan senjata tajam sebagai simbol pengorbanan dan pengabdian spiritual.

Arak-arakan Toa Pe Kong (patung dewa).

Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, ritual Cap Go Meh diyakini menghadirkan perlindungan dari Panglima Kerajaan Langit, Kwan Kong, sebagai penjaga dan penyelamat umat manusia. Prosesi ini diharapkan membawa keberkahan dan kemakmuran sepanjang tahun 2577 Kongzili, dengan harapan alam tetap bersahabat dan masyarakat dijauhkan dari bencana.

Semarak Cap Go Meh di Bitung bukan sekadar perayaan budaya, tetapi juga penegasan bahwa keberagaman adalah kekuatan. Tradisi, toleransi, dan kebersamaan menyatu, menjadikan Bitung semakin kokoh sebagai kota yang harmonis dan penuh warna. (Advetorial)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *