DOTNEWS.ID | JAKARTA – Pemerintah telah melakukan perhitungan hisab, ijtimak (konjungsi) menjelang Ramadhan 1447 H terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026, pukul 19.01 WIB.
Hasilnya, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar melaporkan di Hotel Borobudur Jakarta, pada Selasa (17/2/2026) pukul 19.40 WIB, melalui sidang isbat dan musyawarah, hilal belum terlihat di seluruh wilayah Indonesia bahkan asia tenggara.
Bahkan pula belum ada negara Islam yang melihat adanya hilal.
Nasaruddin menuturkan, keputusan ini diambil karena pemantauan hilal di sejumlah titik di Indonesia tidak memenuhi kriteria MABIMS yang dipedomani oleh pemerintah Indonesia. Berdasarkan kriteria MABIMS, tinggi hilal minimum 3 dan elongasi minimum 6,4 derajat.
Sementara, hasil pemantauan hilal menunjukkan bahwa sudut elongasi yang ada masih sangat minim, yakni 0 derajat 56 menit 23 hingga 1 derajat 53 menit 36 detik.
“Jadi, secara hisab, data hilal pada hari ini tidak memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS,” kata Nasaruddin.
Untuk lanjut dia, Awal ramadhan ditetapkan pada Kamis, 19 Februari 2026.
“Disepakati awal Ramadhan Jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026” ucap Mentri Agama Nasaruddin Umar.(**)















